Ketegangan di Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir telah menjadi fokus perhatian global, memengaruhi politik, ekonomi, dan keamanan regional. Salah satu penyebab utama ketegangan ini adalah konflik yang terus berlanjut antarnegara dan kelompok bersenjata. Saat ini, kawasan tersebut menghadapi berbagai pertempuran yang berdampak pada stabilitas negara-negara di seluruh wilayah.
Di Suriah, perang saudara yang dimulai pada 2011 telah menarik perhatian dunia. Berbagai pihak terlibat, termasuk pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran, serta kelompok oposisi yang mendapat dukungan dari negara-negara Barat dan Turki. Pertempuran ini telah menyebabkan jutaan pengungsi dan krisis kemanusiaan yang mengerikan, dengan ribuan sipil yang menjadi korban. Selain itu, kelompok seperti ISIS dan Al-Nusra Front memanfaatkan ketidakstabilan ini untuk memperluas pengaruh mereka.
Yaman juga mengalami kekacauan serupa. Sejak 2015, konflik antara pemerintah yang diakui secara internasional dan Houthi, yang didukung Iran, telah mengakibatkan bencana kemanusiaan. Pedoman PBB melaporkan bahwa lebih dari 24 juta orang, atau sekitar 80% dari populasi Yaman, membutuhkan bantuan kemanusiaan. Serangan udara oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi semakin memperburuk kondisi, dengan banyak target yang tidak sesuai dengan aturan perang internasional.
Di Irak, meskipun ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayahnya, ketegangan tetap tinggi. Persaingan antara pengaruh Iran dan Amerika Serikat menciptakan kondisi yang tidak stabil. Gerakan pro-Iran di Irak sering kali menantang kekuatan pemerintah, menciptakan ketidakpastian bagi warga sipil. Gerakan ini dengan aktif menyerang basis-basis AS di negara itu, memperburuk hubungan bilateral yang sudah renggang.
Lebanon tidak luput dari ketegangan ini. Kehadiran Hezbollah, kelompok bersenjata yang didukung Iran, menambah kompleksitas situasi. Ketegangan antara Hezbollah dan Israel sering kali memicu bentrokan, yang dapat dengan cepat meluas menjadi konflik berskala lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel melakukan serangan udara untuk menargetkan infrastruktur militer Hezbollah, meningkatkan risiko perang yang dapat melibatkan negara-negara lain di kawasan ini.
Palestina juga merupakan sumber ketegangan yang berkelanjutan. Ketidakpuasan terhadap pendudukan Israel, disertai dengan kegagalan dalam proses perdamaian yang berkepanjangan, membuat rakyat Palestina merasa terpinggirkan. Bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina sering kali mengakibatkan korban jiwa dan semakin memperdalam kebencian. Situasi di Gaza, yang dikuasai oleh Hamas, juga memicu konflik bersenjata dengan Israel, menciptakan siklus kekerasan yang tampaknya tidak akan berakhir.
Dalam konteks geopolitik, rivalitas antara Arab Saudi dan Iran semakin memperburuk ketegangan. Dengan dukungan kelompok yang saling bertentangan di Yaman, Suriah, dan Lebanon, kedua negara berusaha untuk memperluas pengaruhnya di kawasan. Persaingan ini tidak hanya berkontribusi pada konflik lokal tetapi juga memengaruhi hubungan internasional, menempatkan kekuatan besar dalam posisi sulit ketika harus memilih pihak.
Stabilitas kawasan Timur Tengah sangat bergantung pada penyelesaian konflik yang ada. Namun, dengan banyaknya aktor yang terlibat dan kepentingan yang beragam, proses perdamaian tampak semakin kompleks dan sulit. Ketegangan ini bukan hanya masalah regional; dampaknya terasa di seluruh dunia, memicu krisis pengungsi, terorisme, dan ketidakpastian ekonomi yang mengganggu stabilitas global.